life is art

Just another Blogdetik.com weblog

life is art header image 1

Trend Flu Babi

Mei 5th, 2009 · Tak Berkategori

Ternyata bukan hanya mode pakaian atau teknologi informasi yang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, penyakit juga demikian. Dulu dunia digegerkan oleh kehadiran virus HIV AIDS yang telah menimbulkan banyak korban jiwa, lalu ada SARS, lalu flu burung, kini telah muncul lagi wabah baru yang sedang trend yakni Flu babi (Swine Influenza).

Penyakit flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1 ini bahkan lebih ganas daripada flu burung. Hanya dalam tempo dua minggu, virus ini telah menimbulkan korban 150 orang di Meksiko. Hingga kini telah ditemukan sekitar 2.500 kasus dengan korban tewas 159 orang. Kecepatan penyebarannya juga luar biasa, dalam satu hari saja, virus ini telah merambah ke dua negara. Amerika Serikat, salah satu negara tetangga terdekat Meksiko merupakan negara kedua dengan korban terbesar hingga saat ini. Virus ini diduga juga telah menyebar ke negara-negara Eropa dan Asia.

Berdasarkan riset Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, H1N1 tipe Meksiko diduga kuat gabungan flu unggas, flu babi, dan flu manusia. Virus kemungkinan berubah di tubuh babi.

Gejala klinis yang dialami oleh penderita, umumnya sama dengan gejala flu pada umumnya, demam, batuk pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, sesak napas, hingga akhirnya mual, muntah, dan diare.

Hingga saat ini, selain Meksiko dan Amerika Serikat, virus flu babi ini telah merambah ke Kanada, Spanyol,  dan Selandia Baru. Pemerintah Indonesia sendiri telah melakukan antisipasi dalam mencegah masuknya virus flu babi ini, seperti pelarangan impor babi untuk sementara, pemasangan thermoscanner atau alat pemindai panas di sepuluh bandara internasional, travel warning ke Meksiko, dan pengawasan peternakan babi yang tersebar di seluruh Indonesia. WHO juga menekankan bahwa yang harus diwaspadai justru penularan virus ini antar manusia. Sebagian pengidap di Amerika, Spanyol, dan Selandia Baru, terbukti tak bersentuhan dengan babi.

Adapun antisipasi yang bisa kita lakukan secara pribadi agar diri kita dan keluarga tidak terkena virus mematikan ini antara lain adalah menghindari kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi virus flu babi ini, menghindari kontak dengan penderitanya, minum tamiflu yang direkomendasikan oleh WHO, dan yang tidak kalah pentingnya tentunya dengan menerapkan pola hidup sehat, dengan kondisi tubuh yang sehat, sistem kekebalan tubuh manusia akan mampu menangkal virus apapun,  sebaliknya kondisi tubuh yang lemah akan rentan akan virus apapun.  Antisipasi lain tentunya adalah jangan bergaul dengan babi.

(dari berbagai sumber)

→ No CommentsTags:

Stimulus

Maret 1st, 2009 · Tak Berkategori

Usulan Paket Stimulus Fiskal dalam APBN Tahun 2009 sebesar Rp 71,3 trilyun yang diajukan oleh Pemerintah melalui Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, akhirnya disetujui oleh DPR. Dana sebesar Rp 56,3 trilyun akan digunakan untuk penghematan pembayaran pajak (tax saving), melalui penghematan Pajak Penghasilan badan, orang pribadi untuk PTKP (penghasilan tidak kena pajak) sebesar Rp 43 trilyun, kemudian subsidi pajak atas BM DTP (bea masuk ditanggung pemerintah), di antaranya pajak pertambahan nilai (PPN) eksplorasi migas, minyak goreng Rp 3,5 trilyun, bea masuk barang modal Rp 2,5 trilyun, Pajak Penghasilan Pasal 21 (karyawan) Rp 6,5 trilyun, dan Pajak Penghasilan panas bumi Rp 800 milyar. Sedangkan dana tambahan stimulus sebesar Rp 15 trilyun akan digunakan untuk subsidi dan belanja negara pada dunia usaha atau lapangan kerja. Hal itu mencakup subsidi solar Rp 2,8 trilyun, diskon beban puncak listrik industri Rp 1,4 trilyun, tambahan belanja infrastruktur, KUR (kredit usaha rakyat) dan BLK Rp 10,2 trilyun serta perluasan PNPM (program nasional pemberdayaan masyarakat) sebesar Rp 600 milyar.

Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, meyakini kebijakan stimulus fiskal yang diajukan oleh pemerintah itu dapat meminimalisir dampak krisis ekonomi global terhadap Indonesia. Alasan pertimbangannya, sebagian besar dana stimulus dipakai untuk menggerakkan kegiatan ekonomi rakyat.

Paket stimulus fiskal pemerintah tersebut tentu mengingatkan kita pada paket stimulus fiskalnya Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama. Paket stimulus fiskal tersebut telah disetujui oleh Kongres dan Senat AS sebesar US$825 miliar, dimana US$275 miliar diantaranya akan digunakan untuk kebijakan tax cut. Kebijakan tax cut adalah pemotongan pajak bagi para buruh dan masyarakat berpenghasilan rendah di satu sisi, dan di sisi lain menaikkan tarif pajak bagi orang pribadi yang berpenghasilan di atas USD 250,000 pertahun.

Rencana Obama untuk memotong pajak bagi masyarakat menengah ke bawah dan menaikkan pajak bagi orang kaya tersebut telah sesuai dengan asas dan fungsi pajak yang sebenarnya. Salah satu asas pemungutan pajak dalam The Four Maxims-nya Adam Smith adalah asas equality atau asas keseimbangan dengan kemampuan, yaitu pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara harus sesuai dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Sedangkan salah satu fungsi pajak adalah fungsi redistribusi pendapatan, dimana pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan, sehingga dapat membuka kesempatan kerja dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat umum.

Paket Stimulus Fiskal dalam APBN Tahun 2009 sebesar Rp 71,3 trilyun atau 1,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) tersebut, di atas kertas memang terlihat sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang memang merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara negara. Namun berdasarkan pengalaman yang sering terjadi, apa yang ada di atas kertas, ketika masuk ke dalam tataran implementasi, akan sangat sulit untuk dioptimalkan. Masalah efisiensi dan efektivitas pengelolaan anggaran akan timbul, seperti penyerapan anggaran belanja yang lamban, tidak tepat sasaran, dan tingginya potensi kebocoran. Akibatnya dana yang besar akan menguap begitu saja atau terbuang percuma karena tidak memberikan dampak yang berarti bagi perekonomian bangsa, kecuali mengutungkan segelintir pihak-pihak tertentu saja.

  

Padahal Undang-undang Dasar 1945, tepatnya Pasal 23, sudah mengamanatkan agar anggaran dan pendapatan belanja negara dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bahkan dalam ketentuan Pasal 3 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara juga sudah ditegaskan bahwa keuangan negara harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

Sila kelima dari dasar negara kita Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Harapan kita tentunya, semoga kebijakan stimulus fiskal pemerintah yang telah disetujui oleh DPR tersebut benar-benar bisa dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta merefleksikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

→ 2 CommentsTags:

Barack Hussein Obama

Januari 22nd, 2009 · Tak Berkategori

Barack Hussein Obama akhirnya dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-44 di Capitol Hill, Washington D.C. dihadapan sekitar dua juta orang yang memadati National Mall. Dialah Presiden AS yang paling fenomenon, presiden berkulit hitam pertama di AS yang menjadi anomali bagi doktrin politik WASP (White – Anglo Saxon – Protestant). Dalam sejarah pemilihan presiden AS, belum pernah ada seorang calon presiden AS yang juga begitu diharapkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia seperti Obama. Dengan modal pembawaannya yang percaya diri namun tenang, murah senyum, dan kemampuannya dalam berorasi, serta janjinya untuk melakukan perubahan, dia telah menjadi inspirasi bagi banyak orang yang menempatkan dirinya sebagai simbol demokrasi, persamaan, dan perubahan, bahkan saat ini dia telah menjadi selebritis dan magnit bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Satu lagi kelebihan Obama dibanding para presiden pendahulunya dan pemimpin lainnya adalah kejeliannya memanfaatkan media internet untuk menjaring dukungan maupun dana. Bahkan tidak itu saja, hingga kini, Obama dan first lady Michelle serta tim kampanyenya tetap mengintensifkan jalinan komunikasi dengan para pendukung dan simpatisannya, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Sebagai salah satu buktinya, saya yang bukan warga AS dan tidak bisa ikut memilih dalam US Election, sejak masa kampanye hingga kini masih menerima informasi melalui e-mail dan webcam mengenai kegiatan-kegiatan Obama dan Michelle.
AS, setelah Uni Soviet runtuh, suka atau tidak suka, harus kita akui adalah penguasa dunia saat ini. Namun, Obama sebagai seorang Master Hukum lulusan Universitas Harvard dan aktivis Partai Demokrat yang gigih memperjuangkan demokrasi, diyakini akan menjadi figur pemimpin dunia yang tegas, namun santun. Dengan latar belakangnya yang penuh dengan warna, pria yang lahir di Hawaii dari rahim seorang wanita berkulit putih dan seorang ayah berkulit hitam asal Kenya dan di masa kecilnya sempat tinggal di Jakarta ini, diyakini akan lebih luwes berdiplomasi dalam pergaulannya di dunia internasional.
Sejak hari ini, Obama telah mempunyai kewenangan untuk mulai merealisasikan misi dan janji-janjinya. Dalam bidang politik, dia berjanji akan mengubah wajah pemerintahan AS yang saat ini sangat militeristik menjadi sebuah pemerintahan demokratis yang lebih mengedepankan jalur diplomasi dalam kebijakan luar negerinya. Kongkritnya, dia akan menarik tentara AS dari Irak, menutup penjara Guantanamo di Kuba, melakukan diplomasi dengan para pemimpin negara-negara penentang AS seperti Iran, serta janjinya yang terbaru, yakni mengupayakan perdamaian di Palestina. Bahkan dalam 100 hari pertama pemerintahannya, konon dia juga berniat untuk melakukan kunjungan pertama dan berpidato di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, negeri masa kecilnya yang sangat dia rindukan, Indonesia.
Dalam bidang ekonomi, Obama juga menjanjikan upaya pemulihan krisis ekonomi yang melanda AS dan dunia. Konkritnya, dia akan mendesak Kongres AS, yang saat ini juga dikuasai oleh para koleganya dari Partai Demokrat, untuk menyetujui paket stimulus sebesar US$825 miliar. Menurut rencana, sebesar US$550 miliar akan digunakan untuk menggerakkan investasi dan sebesar US$275 miliar untuk melakukan tax cut atau pemotongan pajak bagi para buruh dan masyarakat berpenghasilan rendah di satu sisi, dan di sisi lain menaikkan tarif pajak bagi orang pribadi yang berpenghasilan di atas USD 250,000 per tahun.

Obama bukanlah mesiah atau nabi, dia hanyalah manusia biasa yang ingin melakukan perubahan. Sebagai Presiden dari negeri yang multi etnis, ras, dan keyakinan, dia juga harus mengakomodasi berbagai kepentingan rakyatnya yang berkulit putih maupun hitam, beragama nasrani maupun yahudi, namun setidaknya dia telah memberikan secercah harapan untuk perubahan wajah AS menjadi negara yang lebih demokratis, bersahabat, dan santun.

→ 3 CommentsTags:

Tragedi Jalur Gaza

Januari 12th, 2009 · Tak Berkategori

Dua pekan sudah Izrael memborbardir Jalur Gaza, sedikitnya 800 orang telah kehilangan nyawa, sebagian diantaranya adalah anak-anak dan wanita yang tidak berdosa, dan masih ada 3.300 orang yang terluka. Demikian kata Kepala Pelayanan Darurat Gaza, dr. Muawiya (Kompas, Jumat, 9/1). Sebagian besar korban adalah warga sipil, hanya sebagian kecil anggota HAMAS yang konon menjadi target yang sesungguhnya dari agresi militer Izrael kali ini.

Sedangkan di pihak Israel, 10 tentara tewas dalam agresinya ke jalur Gaza, 3 diantaranya adalah korban friendly fire atau korban salah tembak oleh temannya sendiri, dan tiga warga sipil tewas karena roket dan mortir yang ditembakkan dari Gaza sejak awal serangan.

Izrael berdalih, agresi militer tersebut mereka lakukan dengan tujuan untuk menghentikan serangan roket yang dilakukan oleh Pejuang HAMAS ke Israel. Agresi tersebut mereka lakukan dengan misi untuk melindungi warganya dari serangan roket dan mortir HAMAS. Agresi tersebut direstui oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS), negeri penguasa dunia yang masih dipimpin oleh Goerge Walker Bush. Sedangkan Presiden terpilih Barack Hussein Obama belum bisa berbuat banyak, namun setidaknya dia telah menyatakan keprihatinannya dan berjanji untuk memprioritaskan perdamaian di Palestina ketika resmi dilantik menjadi Presiden AS tanggal 20 Januari nanti.

Saya seorang muslim yang mencintai agama dan saudara seiman, semua keluarga dan teman saya yang muslim sedang bersedih dan terluka melihat penderitaan saudara seimannya di Palestina, namun saya juga punya dua orang sahabat yang kebetulan orang Yahudi dan Nasrani yang justru mendukung agresi militer Izrael tersebut dengan alasan pejuang HAMAS yang lebih dulu menyerang dengan roket dan mortir yang telah membunuh warga Izrael dan mengancam keselamatan warga Izrael lainnya. Dalihnya, mereka hanya membela diri. Hingga kini, 3 nyawa warga Izrael dibalas dengan 800 nyawa warga Palestina.

Begitulah, perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah baru, dan yang menjadi korban dan paling menderita adalah warga sipil, bukan pejuang HAMAS maupun pasukan Izrael. Tak ada yang bisa kita lakukan saat ini selain berdoa untuk para syuhada di Jalur Gaza, memberikan bantuan obat-obatan dan kebutuhan pokok, serta mendesak PBB dan para pemimpin dunia untuk mengupayakan gencatan senjata dan perdamaian diantara kedua belah pihak. Percayalah, tiada sesuatu peristiwa apapun tanpa seijin Allah, pasti ada hikmah positif di balik semua ini.

→ 1 CommentTags:

Ramai-ramai Pasang Iklan di Akhir Tahun

Desember 26th, 2008 · Tak Berkategori

Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan begitu banyak iklan instansi pemerintah di televisi. Misalnya ada iklan yang mempromosikan sekolah menengah khusus, bahkan ada instansi pemerintah sampai mengadakan kegiatan pemberian award atau penghargaan yang ditayangkan di stasiun televisi nasional yang konon menghabiskan biaya milyaran rupiah. Yang lebih memprihatinkan lagi, ada beberapa iklan yang terkesan hanya ingin menampilkan dan mempopulerkan menteri atau pejabatnya. Pertanyaannya seberapa efektifkah iklan-iklan tersebut dan yang lebih penting lagi apakah manfaatnya sebanding dengan besarnya biaya yang dikeluarkan? Bukankah akan lebih bermanfaat apabila biaya yang milyaran rupiah tersebut lebih diprioritaskan untuk dialokasikan ke biaya pembangunan dan memperbaiki ratusan sekolah yang sudah rusak atau membayar tunjangan para guru di daerah terpencil yang konon masih sering dipotong oleh para pejabatnya?

Fenomena ini sudah berlangsung cukup lama, setiap akhir tahun anggaran, instansi-instansi pemerintah akan berlomba-lomba menghabiskan anggaran, baik dengan mengadakan kegiatan-kegiatan, maupun sekedar rapat-rapat formalistik yang diselenggarakan di hotel-hotel, di luar kota, di Puncak, maupun membayar iklan di media massa yang jumlahnya milyaran rupiah. Padahal Undang-undang Dasar 1945, tepatnya Pasal 23, sudah mengamatkan agar anggaran dan pendapatan belanja negara dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bahkan dalam ketentuan Pasal 3 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara juga sudah ditegaskan bahwa keuangan negara harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

Sungguh ironis memang, di tengah-tengah krisis ekonomi global saat ini – hal yang menjadi alasan pemerintah untuk terus mengurangi subsidi BBM, menaikkan harganya, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga semua kebutuhan pokok – namun di sisi lain para pejabat pemerintah sendiri justru berlomba-lomba menghabiskan anggaran dan pendapatan belanja negara yang sebagian besar berasal dari uang rakyat yang dipungut oleh pemerintah melalui pajak.

Sebenarnya tidak semua instansi pemerintah berprilaku seperti itu, masih ada juga iklan instansi pemerintah yang cukup efektif, seperti misalnya iklan Sunset Policy-nya Dikretorat Jenderal Pajak yang bersifat informatif dan mendidik yang cukup efektif dalam mengajak masyarakat Wajib Pajak untuk ikut berpartisipasi dalam membayar pajak. Iklan seperti itu yang semestinya ditiru oleh instansi lainnya.

Inifiensi ini sesungguhnya tidak semata-mata terkait dengan mental para menteri dan pejabat struktural di bawahnya, namun juga terkait dengan kualitas atau kompetensi pejabat yang bersangkutan. Ketidakmampuan menciptakan ide atau kreasi, mengakibatkan mereka hanya mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya. Negeri ini masih butuh banyak aparat negara yang mempunyai integritas dan berdedikasi tinggi serta kreatif.

→ No CommentsTags:

Hari Ibu

Desember 22nd, 2008 · Tak Berkategori

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, Ibu… Ibu…
Inginku dekap dan menangis di pangkuanmu sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa lalui sekujur tubuhku, dengan apa ku membalas? Ibu… Ibu…

Itulah bait-bait lagunya Iwan Fals yang berjudul Ibu. Setiap menyanyikan lagu ini, entah mengapa hati saya selalu bergetar dan ingin menangis. Apa yang sudah saya lakukan untuk Ibu saya, belum berarti apa-apa dibandingkan dengan pengorbanan dan doa-doanya selama ini. Beruntunglah kita yang masih mempunyai Ibu karena masih ada kesempatan buat kita untuk membalas jasa-jasanya atau setidaknya membuatnya bahagia. Jangan sampai kita mengecewakan Ibu kita. Selamat Hari Ibu.

→ No CommentsTags:

Commercial Break

Desember 18th, 2008 · Tak Berkategori

Setiap kali kita menonton sebuah acara di televisi, entah itu film, sinetron, berita, olah raga, atau musik, tentu akan diselingi oleh commercial break atau tayangan iklan dari berbagai macam produk. Sebagian dari kita mungkin merasa terganggu atau kesal dengan keberadaan iklan-iklan tersebut, namun sesungguhnya advertising atau iklan-iklan itulah yang menjadi penopang utama sebuah acara di stasiun televisi. Penghasilan stasiun-stasiun televisi di Indonesia sebagian besar berasal dari tayangan iklan. Oleh karenanya semakin tinggi rating sebuah acara, maka akan semakin lama pula durasi iklannya dan semakin tinggi pula tarif iklan yang harus dibayar oleh produsen pengiklan kepada stasiun televisi.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengikuti workshop penyutradaraan film iklan dengan mentor Dimas Jayadiningrat, salah satu director atau sutradara film iklan dan video klip musik papan atas di Indonesia. Beberapa film iklan yang pernah dibuatnya dan sering ditayangkan di berbagai stasiun televisi, antara lain adalah Bentoel, Star Mild, dan Promag. Pembuatan film iklan ternyata tidaklah simpel dan sesingkat durasi penayangannya yang hanya dalam hitungan detik. Pembuatan film iklan sangat kompleks dan membutuhkan kreatifitas yang sangat tinggi dari sutradara dan krunya. Bahkan menurut pandangan saya yang kebetulan pernah berkecimpung di dunia film cerita sebagai Script Writer atau Penulis Skenario, pembuatan film iklan, terutama iklan yang tematik, memerlukan daya kreatifitas yang lebih tinggi, mulai dari pre-production hingga post-production. Mengapa demikian? Karena sebuah film iklan bukan sekedar tontonan yang bertujuan menghibur, akan tetapi di dalamnya ada proses promosi, pencitraan atau image sebuah produk.

Proses terciptanya sebuah film iklan umumnya diawali dengan adanya keinginan dari client atau produsen produk tertentu untuk mengiklankan produknya di media televisi, client tersebut biasanya akan menggunakan jasa agency atau perusahaan agen iklan yang kemudian akan menghubungi PH (Production House) atau rumah produksi. PH inilah yang akan menjadi produser dan meminta seorang director atau sutradara untuk mengerjakan film iklan yang diinginkan oleh client tersebut.

Menurut Dimas Jay, untuk menghasilkan film iklan yang baik, kita harus merinci objectives atau tujuan-tujuan dari pembuatan film iklan tersebut. Dimulai dari pertanyaan What is this? Apa yang ingin diiklankan, kemudian apa temanya, apa masalahnya, bagaimana solusinya, ada dimana posisi kita saat ini, siapa yang menjadi target iklan produk kita, apa karakter brand atau merek produk yang ingin kita iklankan, dan kapan iklan itu akan dipublikasikan. Semuanya harus dijabarkan secara rinci.

Menurut Jay lagi, seorang sutradara harus mampu mengombinasikan antara style atau gaya, ide, dan teknik dalam pembuatan film iklan. Dia juga harus mampu memberikan value atau nilai pada iklan tersebut, mengeksplor tujuan-tujuan pembuatan iklan produk yang bersangkutan, membuat orang-orang percaya pada iklan tersebut, dan memberikan kesempatan kepada produk tersebut untuk tampil dan berkembang. Bahkan dalam pembuatan film iklan yang tematik, kita juga harus mampu membuat objective campaign yang diharapkan mampu mengangkat dan meningkatkan image atau citra sebuah produk, seperti misalnya dengan menampilkan ungkapan-ungkapan from zero to hero atau ordinary man who save the day, dan seterusnya.

Demikianlah sekilas proses pembuatan film iklan yang biasa kita saksikan di televisi. Bagi yang berminat membuat film iklan, bisa menggunakan tips dari Jay tersebut.

→ No CommentsTags:

Hikmah Berqurban

Desember 10th, 2008 · Tak Berkategori

Alhamdulillah kita bertemu lagi dengan Hari Raya Idul Adha yang mulia ini. Setiap amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada kita, dibalik itu pasti ada hikmah dan manfaat, baik bagi yang melaksanakan maupun bagi masyarakat di sekitarnya. Demikian pula dengan perintah untuk berqurban di Hari Raya Idul Adha.

Hikmah melaksanakan qurban, dapat ditinjau dalam dua dimensi yang berbeda, baik dimensi vertikal maupun dimensi horizontal. Ditinjau dari dimensi vertikal atau hubungan antara manusia dengan Penciptanya, hikmah dan manfaatnya selain mendapatkan pahala yang besar, menjadikan kita sebagai orang yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan taqwa kita kepada-Nya. Sedangkan dimensi horizontalnya adalah menimbulkan dan memelihara rasa solidaritas sosial dengan sesama umat muslim dan masyarakat di sekitar kita. Makna berbagi ini akan meningkatkan rasa persaudaraan dalam masyarakat.

Demikianlah, keikhlasan Nabiullah Ibrahim AS. untuk mengorbankan putranya Ismail AS demi baktinya kepada Sang Pencipta dan Pemilik Hidup, semestinya senantiasa kita teladani dan amalkan. Berqurban pada Hari Raya Idul Adha ini sesungguhnya hanyalah trigger atau pemicu bagi kita untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Sang Pemilik alam semesta ini, Allah SWT dan menumbuhkan rasa solidaritas sosial kita kepada sesama kemudian diaplikasikan dalam prilaku hidup kita pada hari-hari berikutnya.

Harapan kita, semoga dengan momentum Hari Raya Idul Adha ini, kita bisa meraih rahmat dan berkah dari Allah sebagai bekal di akhirat kelak ketika kita kembali pada-Nya, Tuhan semesta alam. Insya Allah.

→ No CommentsTags:

Obamanomic

Nopember 28th, 2008 · Tak Berkategori

Barack Hussein Obama akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-44 dan Presiden AS pertama yang berkulit hitam. Dia tidak hanya berjanji akan mengubah wajah pemerintahan AS yang saat ini sangat militeristik menjadi sebuah pemerintahan demokratis yang lebih mengedepankan jalur diplomasi dalam kebijakan luar negerinya, akan tetapi dalam bidang ekonomi, dia juga menjanjikan kebijakan-kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada rakyat banyak, bukan berpihak pada golongan elit atau pengusaha besar. Salah satu janjinya yang menjadi perhatian publik adalah rencananya untuk melakukan tax cut atau pemotongan pajak bagi para buruh dan masyarakat berpenghasilan rendah di satu sisi, dan di sisi lain menaikkan tarif pajak bagi orang pribadi yang berpenghasilan di atas USD 250.000 per tahun.

Rencana kebijakan ekonomi Obama untuk menaikkan pajak orang kaya untuk kemudian didistribusikan ke orang miskin, lagi-lagi merupakan anomali bagi sebuah negara yang dikenal sebagai biangnya kapitalisme. Meski sempat dikritik oleh John McCain, saingannya dari Republican, sebagai kebijakan yang akan menjadikan AS sebagai negara sosialis, namun justru janji inilah yang diyakini banyak pihak sebagai salah satu faktor yang mendongkrak popularitas Obama dan membawanya ke gedung putih.

Rencana Obama untuk memotong pajak bagi masyarakat menengah ke bawah dan menaikkan pajak bagi orang kaya tersebut telah sesuai dengan asas dan fungsi pajak yang sebenarnya. Salah satu asas pemungutan pajak dalam The Four Maxims-nya Adam Smith adalah asas equality atau asas keseimbangan dengan kemampuan, yaitu pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara harus sesuai dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Sedangkan salah satu fungsi pajak adalah fungsi redistribusi pendapatan, dimana pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan, sehingga dapat membuka kesempatan kerja dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat umum. Kebijakan pendistribusian kekayaan ala Obamanomic ini merupakan refleksi keadilan sosial dalam perpajakan AS.

Dalam perspektif Indonesia, sila kelima dari dasar negara kita Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Obama, Presiden AS terpilih yang kebetulan di masa kecilnya pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia, telah mengamalkan sila kelima dari Pancasila tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kebijakan perpajakan di Indonesia juga sudah merefleksikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

→ 1 CommentTags:

Bugis Street

Nopember 14th, 2008 · Tak Berkategori

Kata orang, kalau kita berkunjung ke Singapura, belumlah lengkap rasanya apabila kita belum mengunjungi Merlion Park, Orchard Road, dan Bugis Street. Merlion adalah patung singa yang merupakan ikon Singapura, Orchard Road adalah nama jalan dengan mal-malnya yang menjadi pusat perbelanjaan barang-barang bermerek, sedangkan Bugis Street adalah nama jalan yang dikenal bukan hanya sebagai surga belanja barang-barang dengan harga yang murah-meriah, akan tetapi juga merupakan tempat wisata malam yang terkenal sampai ke manca negara.

Berbicara mengenai Bugis Street, kita akan menemukan latar belakang sejarah yang cukup panjang dan unik. Bugis Street atau Jalan Bugis, dari namanya, tentu cukup familiar di telinga orang Indonesia sebagai nama salah satu suku terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan yang sejak dahulu terkenal dengan tradisi pelautnya. Setelah ditelusuri, ternyata memang benar, nama itu terkait dengan para pelaut Bugis. Konon dahulu, sebelum bangsa Inggris memasuki Singapura, para pelaut Bugis ini sering menambatkan perahunya di tempat itu untuk kemudian berdagang dengan penduduk setempat. Hal itu menjadi bukti bahwa para pelaut Bugis tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga hingga ke negeri seberang, bahkan namanya telah lama diabadikan sebagai nama jalan, perkampungan Bugis Village, dan pusat perbelanjaan Bugis Junction. Saya sebagai salah satu orang Indonesia yang konon berdarah Bugis, tentu ikut bangga akan hal tersebut.

Singapura hanyalah salah satu negara yang mengabadikan nama suku atau daerah di Indonesia, masih banyak negara lain yang melakukan hal yang sama, seperti Kampong Bugis di Malaysia, Distrik Bojonegoro di Suriname, dan Distrik Maccassar di Afrika Selatan. Bahkan kalau kita berkunjung ke negeri Belanda, tidak sulit bagi kita untuk menemukan bumbu masak khas Indonesia. Kita tinggal datang ke super market terdekat untuk membeli bumbu masak merek Go-Tan yang menggunakan istilah-istilah dengan Bahasa Indonesia ejaan lama, seperti roedjak, soto, sajoer lodeh, sambal nasi goreng, mihoen goreng, rempejek, dan ketjap asin. Namun sayangnya, di Indonesia sendiri banyak orang yang justru gengsi atau malu menggunakan nama-nama yang identik dengan bangsanya sendiri. Mereka lebih senang menggunakan nama-nama asing yang terkadang tidak pas, rancu, kontras, atau bahkan terkesan lucu. Menurut para budayawan, hal tersebut merupakan indikasi betapa kronisnya krisis nasionalisme yang sedang dialami oleh bangsa ini. Semoga fenomena tersebut bisa menjadi spirit bagi kita untuk menimbulkan kembali rasa bangga akan identitas bangsa kita sendiri.

→ 1 CommentTags: